ENVIRONMENTAL HEALTH IS NOT EVERYTHING, BUT EVERYTHING STARTING FROM HERE

Sabtu, 17 Maret 2012

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat ( STBM )

Salah satu komitmen Depkes pada tanggal 21 Agustus 2008, di Jakarta, Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.J(PK) membuka Konferensi Nasional Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga (Konas PAM-RT) dan meluncurkan 10.000 desa kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Hal yang patut kita
dukung bersama dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dengan adanya kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) diharapkan terbentuknya Tim Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dalam membangun kesadaran dan peran serta dari masyarakat yang bekerjasama dengan tokoh masyarakat lintas sektor dengan melakukan sosialisasi mengenai akibat buruk dari kebiasaan BAB sembarangan baik dari rasa malunya, rasa jijik, harga diri, segi agama dan juga kesehatan.
Seberapa penting jamban di rumah tangga??? Coba bayangkan, seandainya di rumah kita tidak ada Jamban atau istilah kerennya WC (Water Closet), kalau mereka yang tidak terbiasa pasti tidak sanggup membayangkannya khususnya mereka yang tinggal di daerah perkotaan yang bukan pinggiran, tapi bagi mereka yang biasa, ya tidak jadi masalah, toh ada kebun, selokan, atau Jamban terpanjang di Dunia (Pinggiran Sungai yang biasa ada Jamban terapung) dan itu dianggap lumrah.

Jamban merupakan sanitasi dasar penting yang harus dimiliki setiap masayarakat. Sebenarnya, masyarakat sadar dan mengerti arti pentingnya mempunyai jamban sendiri di rumah. Alasan utama yang selalu diungkapkan masyarakat mengapa sampai saat ini belum memiliki jamban keluarga adalah tidak atau belum mempunyai uang. Penulis teringat cerita mengenai dana Bantuan Langsung Tuna (BLT) pada saat penulis menonton acara berita di salah satu televisi swasta tanah air mengenai dialog antara Bapak Wakil Presiden yang turun langsung ke masayarakat, ada masyarakat (seorang ibu rumah tangga) yang protes mengenai mengapa dirinya tidak mendapatkan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) padahal tahun lalu ibu tersebut mendapatkan dana Bantuan Tunai Langsung (BLT) tersebut, pada saat ditanya kembali oleh Bapak Wakil Presiden kenapa bisa demikian??? Ibu tersebut menjelasakan bahwa petugas survey melihat kalau Jamban atau WC ibu tersebut sudah memakai keramik dan bersih, sedangkan tahun lalu belum dikeramik dan terlihat jorok, selanjutnya Bapak Wakil Presiden langsung mengatakan untuk mendata ulang kembali mungkin ada kriteria miskin yang perlu disepakati.

Melihat kenyataan tersebut, sebenarnya tidak adanya jamban di setiap rumah tangga bukan semata faktor keadaan ekonomi. Tetapi lebih kepada belum adanya kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Jamban pun tidak harus mewah dengan biaya yang mahal. Cukup yang sederhana saja disesuaikan dengan kemampuan ekonomi rumah tangga. Buat apa jamban yang mewah sementara perilaku buang air besar (BAB) masih tetap sembarangan. Ada faktor lain yang menyebabkan masyarakat untuk membuat atau membangun jamban yaitu ketergantungan pada bantuan pemerintah dalam hal membangun jamban. Hal ini merupakan bagian dari kesalahan masa lalu dalam penerapan kebijakan yang justru cenderung memanjakan masyarakat.

Program pembangunan jamban yang dilakukan selama ini kurang optimal khususnya dalam membangun perubahan perilaku masyarakat. Pendekatan yang dilakukan mempunyai karakteristik yang berorientasi kepada konstruksi atau bangunan fisik jamban saja, tanpa ada upaya pendidikan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang memadai. Selain itu desain jamban yang dianjurkan seringkali mahal bagi keluarga miskin. Subsidi material tidak dapat dilanjutkan baik oleh pemerintah maupun oleh donor. Akhirnya proyek tidak efektif menjangkau kelompok masyarakat miskin. Jamban dibangun, tetapi seringkali tidak digunakan masyarakat.

Sosialisasi ini tidak hanya dilakukan di tempat dan hari-hari tertentu dan bukan hanya pada kelompok masayarakat tertentu, tetapi seluruh lapisan masyarakat. Dan faktor terpenting adalah individu dalam rumah tangga sebagai kelompok terkecil dari masyarakat. Prinsip pembangunan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) tidak menerapkan adanya bantuan finansial atau subsidi secara langsung kepada rumah tangga. Akhirnya penulis menyampaikan mari lakukan Perilaku Hidup Bersih dan sehat dengan membangun Jamban di Rumah Tangga, tidak perlu mahal dan berkesan mewah tetapi memenuhi syarat kesehatan “Kalau Bukan Kita Siapa Lagi, Kalau Bukan Sekarang Kapan Lagi”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar