ENVIRONMENTAL HEALTH IS NOT EVERYTHING, BUT EVERYTHING STARTING FROM HERE

Senin, 18 Juni 2012

Workshop Media Penyehatan Air dan Sanitasi Dasar

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional atau RPJMN tahun 2014 menargetkan, akses terhadap air minum harus mencapai angka 67 persen, sedangkan sanitasi dasar 75 persen. Apabila akses sanitasi tidak di atas 75 persen, maka dikhawatirkan dampaknya terhadap kesehatan cukup signifikan. "Sanitasi buruk
berhubungan erat dengan angka kematian ibu saat melahirkan, kematian bayi dan usia harapan hidup," ujar Kepala Sub Bidang Penyehatan Air dan Sanitasi Dasar Direktorat Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Zainal I Nampira saat acara workshop media, Rabu (29/5).

Perbaikan sanitasi ternyata memiliki andil yang cukup besar dalam memperkecil risiko angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Tidak hanya itu, sanitasi yang baik juga membantu memperpanjang usia harapan hidup seseorang. Zainal berharap, dengan membaiknya akses sanitasi dasar dan imunisasi, risiko kematian bayi pada tahun 2014 bisa ditekan sebanyak 118 per 100.000 penduduk, sedangkan untuk kematian ibu bisa diturunkan menjadi 24 per 1.000 penduduk.

"Akses sanitasi dan perilaku higienis penduduk Indonesia masih rendah. Penyakit menular masih menjadi masalah," ungkapnya. Zainal mengungkapkan, dibutuhkan kerja lebih cerdas untuk menyelesaikan masalah ini. Karena rapor pencapaian MDGs ke 5,6 dan 7 Indonesia masih merah, yakni bagaimana masih tingginya angka kematian ibu pasca melahirkan, meningkatnya kasus HIV AIDS, dan kebersihan air dan sanitasi.

Edukasi dan kampanye masih perlu digalakkan. Mengubah perilaku dengan cara sederhana seperti membiasakan cuci tangan pakai sabun sebelum makan, sesudah buang air besar dan saat memberi makanan ke anak untuk menurunkan risiko berkembangnya penyakit. "Kelihatannya mencuci tangan sederhana, tapi pengaruhnya begitu penting terhadap kesehatan," tutupnya.

Menurut Zainal, diperlukan suatu sinergi antara kesehatan dan sanitasi air minum dalam rangka pembangunan nasional untuk upaya preventif dan promotif. Beberapa masyarakat yang miskin dan memiliki sanitasi yang buruk biasanya diiringi dengan perkembangan munculnya sejumlah penyakit infeksi.

Zainal mencontohkan, kontribusi sanitasi sangat berpengaruh pada risiko kematian ibu. Sebanyak 12 persen angka kematian ibu karena penyakit infeksi. Penyakt infeksi ini terjadi karena perilaku antara lain, tidak mencuci tangan saat penanganan persalinan dan pascamelahirkan.

Sementara pada bayi, sanitasi buruk dapat menimbulkan penyakit diare. Seperti diketahui, sebesar 32,8 persen kematian pada bayi baru lahir diakibatkan diare atau satu per tiga bayi meninggal karena diare. Hal ini menunjukkan bagaimana sanitasi sangat berperan besar dalam konteks pembangunan nasional dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan bayi saat melahirkan.

sumber : http://ampl.or.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar